Rabu, 11 Agustus 2010

PERLUNYA BELAJAR TEATER

Anak Didik perlu belajar Teater
Dikarang oleh : Wisran Hadi

Tidak ada sesuatu yang tidak berguna dalam hidup ini, asal saja semua kegiatan dikerjakan dengan sungguh-sungguh.
Begitu juga dengan teater.
Berteater jangan hanya dilihat sebagai sebuah permainan, pengisi waktu senggang, kegiatan selingan siswa.
Teater adalah sarana pendidikan untuk pembentukan pribadi, memperbaiki penampilan, menumbuhkan percaya diri dan memahami bahwa setiap orang punya kelebihan dan kekurangan.

Di sekolah, semua siswa sudah mendapat banyak macam pelajaran.
Mulai dari bahasa Indonesia, sejarah, budaya, agama, matematik, bahasa Inggeris, dan banyak lagi.
Tapi siapa yang mengajarkan agar siswa-siswa itu tampil pede di depan umum? Siapa yang mengajarkan bagaimana siswa dapat mengucapkan bahasa dan kata dengan artikulasi yang baik? Siapa yang mengajarkan sebuah kerjasama, kerendahhatian, rasa keindahan, dan lainnya? Apa yang tidak didapatkan di dalam kelas oleh seorang siswa, maka kegiatan teater dapat memenuhinya.

Kalau siswa belajar teater, para guru dan orang tua jangan menganggap siswa itu langsung akan jadi seniman, dramawan, orang teater, aktor, sutradara.
Tidak. Tidak perlu dipikirkan hal itu. Kalau seseorang memang akan jadi seniman, mereka akan jadi walau tidak diajarkan pun seni kepadanya.
Tapi kalau seorang siswa memang tidak akan jadi seniman, diajar bagaimanapun juga mereka tentang seni, mereka tidak akan jadi seniman.

Beberapa hal positif dalam belajar teater, antara lain:

1. Disiplin.
Disipilin dalam teater atau dalam cabang seni lainnya seperti musik dan tari misalnya, adalah disiplin yang sangat ketat.
Jika seorang pemain tidak merespon lawan mainnya dalam waktu yang tepat, bisa jadi pertunjukan itu akan gagal.
Bila seorang pemain tidak masuk atau ke luar menurut waktunya yang tepat, akan dapat merusak permainan keseluruhan.
Di sini berarti, disiplin dalam dunia seni adalah disiplin yang berlandasan kepada mood, timing dan filling.
Disiplinnya lebih ditekankan pada disiplin pribadi.

2. Kerjasama.
Kerja teater memerlukan kerjasama dan kekompakan tim.
Sutradara, pemain, awak pentas, dan segala petugas lainnya harus dapat bekerjasama dengan baik.
Seorang pemain yang menganggap dirinya hebat, tetapi kalau tidak dapat bekerjasama dengan penata lampu misalnya, kehebatan pemain itu akan hilang dalam kegelapan.
Dan banyak lagi contoh lain.

3. Mempertajam kecerdasan.
Semua yang terlibat dengan kerja teater dituntut harus cerdas.
Tidak mungkin seorang dapat mengerti dan menghafal naskah dengan baik jika mereka tidak cerdas.
Pemahaman terhadap naskah memerlukan berbagai macam cabang keilmuan; psikologi (untuk mengetahui watak tokoh), sosiologi, antropologi, sejarah (untuk mengetahui dimana cerita berlangsung, dan persoalan-persoalan apa saja yang dipermasalahkan), ilmu tentang seni (hubungan masing-masing cabang seni dan setiap pekerja teater harus mengetahuinya).
Semua itu memerlukan kecerdasan.
Itulah sebabnya, siswa yang tidak cerdas tidak suka dengan teater.

4. Percaya diri.
Seorang yang tidak pernah muncul di tempat yang ramai akan selalu gugup bila berhadapan dengan orang ramai apalagi kalau disuruh pula berpidato.
Sering menjadi cemoohan bila ada seseorang gugup, salah tingkah, salah bicara dalam sebuah perkumpulan, rapat dsbnya.
Siswa yang terbiasa bermain teater, akan terhindar dari semua kesalahan itu.
Karena mereka dilatih untuk muncul di depan penontonnya dengan sempurna.
Pengucapan, gerakan, akting, pakaian, suara, bahasa yang digunakan dilatih dalam kegiatan teater.

5. Menghargai orang lain.
Seorang yang berteater harus menghargai penontonnya. Karena mereka datang untuk menyaksikan pertunjukan, bukan untuk keperluan lain.
Oleh karena itu, menjadi kewajiban yang mutlak bagi orang yang mengadakan pertunjukan untuk menghargai penonton.
Menghargai penonton dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain; melaksanakan pertunjukan tepat waktu, menyajikan pertunjukan yang baik dan benar-benar disiapkan semaksimal mungkin, menyediakan tempat pertunjukan yang baik, bersih, dan indah, menyambut penonton dengan budi bahasa yang baik.

6. Memperhalus citarasa.
Seorang siswa yang pernah berteater akan menyadari bahwa dalam dirinya ada rasa seni yang harus dijaga dan diperhalusnya.
Teater mengajarkan pengucapan dengan bahasa yang baik, indah, menyentuh, cerdas.
Murid yang pernah berteater akan menyadari bahwa dalam hidup ini harus ada keselarasan.
Keselarasan dengan musik, dengan alam sekitar, dengan gerakan, dengan suara dan ucapan-ucapan.
Semua itu adalah untuk memperhalus jiwa dan citarasa.

7. Merangsang kreativitas.
Teater harus didasari oleh daya kreativitas yang tinggi.
Dalam teater setiap orang dituntut untuk dapat membuat hal-hal yang baru.
Menumbuhkan kreativitas siswa merupakan bagian dari menumbuhkan kreativitas bangsa.
Tanpa kreativitas bangsa ini tidak dapat menciptakan sesuatu yang baru.
Siswa yang kreatif adalah siswa yang cerdas pikirannya dan sehat jiwanya.

Banyak lagi segi-segi positif yang didapat siswa dengan berteater.
Namun sayang, banyak orang tua dan guru-guru mengira bahwa apabila seorang siswa ikut-ikut berteater sudah dianggap mereka akan menjadi orang seni, orang yang tidak teratur, liar dan sebagainya.
Padahal betapa banyak anak-anak muda tanpa berteaterpun mereka lebih banyak kemungkinannya untuk jadi liar dan amburadul.

Menumbuhkan kegiatan teater di sekolah.

Berteater bagi siswa tidaklah untuk menjadikan mereka menjadi orang seni, orang teater, atau seniman.
Tetapi berteater merupakan bagian dari pendidikan keperibadian, pendidikan seni, menumbuhkan kreativitas, melatih kerjasama, agar siswa tidak menjadi seorang egois, individualis, merasa hebat sendiri dan terpisah dari lingkungannya.
Untuk itu perlu ditumbuhkan kegiatan teater di sekolah.

Menumbuhkan kegiatan teater di sekolah tergantung pada beberapa aspek:

Pertama sekali adalah kesediaan kepala sekolah untuk menumbuhkan kegiatan kegiatan teater di sekolahnya.

Kedua, ketersediaan guru yang akan menjadi pembimbing atau pengasuh kegiatan teater.

Ketiga, ketersediaan waktu yang diberikan sekolah untuk siswa mengadakan latihan-latihan.

Selain ketiga hal di atas, ada beberapa persoalan lagi yang harus disiapkan sebelum memulai kegiatan, antara lain;

1. Penyediaan naskah.
Biasanya yang paling sulit bagi sebuah sekolah adalah penyediaan naskah yang akan dipentaskan.
Untuk mengatasi ketiadaan naskah, guru pembimbing tidak usah risau.
Bersama siswa, guru pembimbing dapat membuat naskah sederhana secara bersama-sama.
Guru cukup menjelaskan saja kepada siswa tentang ringkasan cerita, kemudian siswa mengembangkannya dalam dialog-dialog.

2. Penyediaan pelatih/sutradara.
Guru pembimbing teater cukup menghubungi grup-grup teater yang dikenalnya dan meminta salah seorang anggota grup itu untuk menjadi sutradara.
Hal ini pernah dilakukan Bumi Teater sekitar tahun 1982 dahulu selama 5 tahun lebih.
Sutradara-sutradara muda dari Bumi Teater dikirim ke berbagai sekolah yang memerlukan.

3. Mempersiapkan pementasan.
Pementasan teater yang baik tidak tergantung pada tempatnya, tetapi pada penyajiannya.
Oleh karena itu, guru pembimbing teater tidak perlu takut, di mana pementasan akan dilangsungkan.
Di halaman sekolah, di di pelataran atau plasa-plasa seperti di pelataran Minang Plasa, Matahari Plasa, Andalas Plasa, Plasa Taman Budaya dan banyak lagi tempat lain.

Jika memungkinkan tidak ada salahnya, pementasan teater siswa ini dibuat bergiliran, semacam arisan.
Sekolah A mentas di sekolah B, Sekolah B mentas di sekolah C dan seterusnya.
Hal ini akan dapat menjalin kerjasama dan keakraban antar siswa.
Dipastikan mereka tidak akan berkelahi lagi sesamanya, karena sama-sama berada dalam sebuah kegiatan yang besar.

Jika semua kepala sekolah dan guru-guru kesenian pada semua sekolah sepandapat untuk menumbuhkembangkan kegiatan teater di sekolah, mungkin Dewan Kesenian Padang dapat mendistribusikan sutradara-sutradara muda dari berbagai grup teater untuk melatih teater di sekolah-sekolah dan sekaligus akan dapat menjadi motor penggerak untuk mengkoordinir kegiatan arisan teater siswa seperti yang disampaikan di atas.

Selanjutnya nanti akan dapat diadakan festival teater siswa.
Sebuah kegiatan yang dapat mengundang kegairahan baru para siswa dalam berkesenian.
(WH)

2 komentar:

  1. salam..
    semoga kuncup menjadi bunga, wangi hidup berketulusan..

    BalasHapus