Rabu, 11 Agustus 2010

MENGENAL DRAMA

Wayang sebagai suatu Teater Total

Hazim Amir dalam tulisannya “Nilai-Nilai Etis dalam Wayang” (1994: 36-38) menjelaskan bahwa wayang termasuk dalam bentuk teater yang total. Ketotalan yang dimaskud menyangkut ketotalan kepribadian dalam kegiatan akal, rasa, dan kemauan. Tanpa kegiatan seluruh kemampuan (faculty) manusia ini, orang tak akan bisa mengerti apalagi menikmatinya. Ketotalan Teater Barat biasanya terbatas pada ketotalan dalam hal pemanggungannya, tidak dalam hal naskahnya pula, ketotalan tersebut bersifat kuantitatif, artinya terbatas pada penggunaan alat-alat panggung yang modern dan canggih, seperti slide, film-strip, film, overhead projector, playback, panggung berputar, dan lain-lain. Selain itu, didukung dengan teknik-teknik pemeranan yang melibatkan, tari-tarian, akrobat, sulap, kabaret, dan sebagainya. Ketotalan Teater Barat tersebut terletak pada cara pemanggungan tanpa mengekspresikan isi naskah, hanya mengetangahkan satu masalah pokok yang menggambarkan tentang kodrat manusia dengan memilih salah satu made of expressions, seperti tragedi atau komedi.

Sedangkan dalam Drama Timur, cenderung belum bersifat total. Seperti dalam Drama Sanskrit yang seharusnya menjadi induk dari drama yang malah tidak dikenal di Indonesia. Drama ini mengambil cerita dari mitos atau legenda yang bersifat heroik, sosial, erotik, dan hampir semuanya bersifat tragis. Penggunaan bahasa oleh tokoh perempuan selalu bersifat praktis. Dalam hal pemanggungan Drama Sanskrit selalu memakai aturan-aturan klasik yang telah ditetapkan oleh Bharata dalam Natyashastra-nya.

Drama-drama Timur lainnya, seperti opera Peking, Noh, dan Kabuki biasanya tidak bersifat total. Mereka menuruti aturan-aturan klasik yang telah ditetapkan baik dalam penulisan maupun pemanggungan mereka.

Dibandingkan dengan drama-drama dan teater-teater tersebut maka wayang tampak jauh lebih total. Dilihat dari isinya maupun cara pemanggungannya. Meskipun ketotalan wayang ini tidak dalam bentuk kuantitatif (karena penulisan dan cara pemanggungannya mengikuti aturan klasik tertentu), namun dalam keterbatasan penulisan cerita wayang menceritakan seluruh aspek kehidupan menusia dan kodrat kebinatangan sampai kemalaikatan dengan pembahasan tema yang tak terbatas. Dalam wayang, bentuk dan isi lakon serta cara pemanggungannya adalah satu. Penggunaan alat panggung yang sederhana tetapi sangat efektif dalam mengekspresikan keseluruhan hidup manusia. Bagi penonton, wayang tidak bisa memberikan hiburan secara instant seperti yang diberikan bentuk-bentuk kesenian populer, tetapi memberikan hiburan yang serius dengan melibatkan kemampuan intelektual, kultural, filosofis, dan artistiknya.

Dramaturgi Seni Pertunjukan Teater

Kata drama dalam Herman J Waluyo (2002) berasal dari bahasa Yunani yaitu dramoai yang berarti berbuat, berlaku, beraksi, bertindak dan sebagainya, dan “drama” berarti : perbuatan, tindakan. Drama turgi adalah ajaran tentang masalah hukum, dan konvensi/ persetujuan drama. Teater merupakan kisah kehidupan manusia yang disusun untuk ditampilkan sebagai pertunjukkan di atas pentas oleh para pelaku dengan dan ditonton oleh publik (penonton).

Teater sebagai sebuah seni pertunjukan tidak terlepas dari aspek tanda dan simbol kehidupan manusia. Kehidupan manusia yang merupakan bahan penciptaan bagi penulis maupun pekerja seni teater lainnya akan membangun karya seni pertunjukan penuh dengan tanda dan simbol-simbol kehidupan. Tanda dan simbol yang sifatnya universal tersebut diyakini sebagai dasar dari komunikasi teater.

John Powers, dalam Littlejohn (1995) menegaskan bahwa yang paling penting dalam komunikasi adalah pesan. Menurut Powers, pesan memiliki tiga unsur yaitu: tanda dan simbol, bahasa, dan wacana. Teater sebagai sebuah karya seni pertunjukan akan mengangkat pesan tentang kehidupan, tentang norma, tentang kebaikan, keburukan, kejahatan, dan berbagai watak karakter manusia untuk ditampilkan di atas panggung.

Simbol-simbol dari penulis naskah yang dibawakan oleh aktor melalui interpretasi sutradara berfungsi untuk mengomunikasikan konsep, gagasan umum, pola, atau bentuk. Konsep disebut makna yang dipegang bersama antara para komunikator, tetapi masing-masing komunikator juga akan memiliki kesan atau makna pribadi yang mengisi gambaran umum tersebut. Kesan pribadi merupakan konsepsi orang tersebut. Makna terdiri atas konsepsi pribadi individu dan konsep umum yang dipegang bersama-sama dengan orang-orang lain.

Tokoh atau pelaku dalam sebuah cerita menunjuk pada orangnya atau pelakunya. Sedangkan lakuan akan berkaitan dengan bagaimana tokoh tersebut berlaku atau berperilaku, menunjuk pada sifat sehingga bisa juga disebut watak, perwatakan, dan karakter (Burhan Murgiyanto: 2005)

Pertunjukan teater baik tradisional maupun modern akan menggunakan spectakle-spectskle musik. Musik dalam seni pertunjukan teater pada umumnya menjadi bagian kedua atau hanya berfungsi sebagai elemen pendukung. Musik tidak hanya digunakan sebagai ilustrasi tetapi juga sebagai pembangun suasana, sebagai pengiring gerak (tari), yang berjalan beriringan, saling mengisi dan saling menguatkan.

Musik diaransemen sebagai bunyi-bunyian yang melekat dengan karakter tokoh yang akan hadir dalam pertunjukan. Bunyi dalam teater dikategorikan menjadi bunyi alami, atau bunyi-bunyi alam, bunyi perangkat atau alat mesin, sperti mobil, mesin pabrik dsb, dan bunyi yang dikarenakan adanya aksi tertentu seperti bunyi meja ditendang, batu dilempar dsb (Nur Sahid: 2004). Bunyi-bunyi tersebut diolah dengan menggunakan alat-alat musik untuk menghasilkan efek suara yang mendukung lakuan aktor dan spectakle pemanggungan.

Musik dalam pertunjukan teater juga dipahami sebagai lagu dan atau tembang. Musik dalam hal ini mengacu pada fungsi praktisnya, menunjuk secara spesifik pada situasi sosial masyarakat pendukungnya. Disamping itu musik juga sebagai penanda peristiwa yang akan menjadi konteks pertunjukan teater. Musik dalam pertunjukan teater dimainkan secara live (hidup-langsung) sebagai bagian kesatuan pertunjukan.
Penyutradaraan

•Penyutradaraan adalah proses:
•memilih naskah dan menganalisis naskah,
merancang audisi dan melakukan pilihan pemeran,
•membimbing latihan aktor,
•mempersiapkan elemen pementasan,

Ruang Lingkup Penyutradaraan

Ruang lingkup/wilayah kerja sutradara terdiri dari tiga tahap. Pertama, perencanaan; kedua, pelatihan; ketiga, pertunjukan.

Tahap perencanaan: naskah diterjemahkan dari naskah drama menjadi naskah visual dalam ruang, waktu, dan warna pemanggungan oleh sutradara

Tahap pelatihan: naskah diubah bentuknya menjadi tubuh dan suara aktor, serta perancang artistik merancang naskah menjadi elemen artistik pertunjukan.

Tahap pertunjukan: sutradara, penulis, dan desainer menyingkir. Stage manager, crew panggung, dan aktor menghadirkan naskah di atas panggung

Pilihan materi dan teknik penyutradaraan:
Materi: aksi, ruang, garis, bentuk, warna, suasana
Teknik: komposisi, pengadeganan, gerak, gerakan berpindah, penghayatan dramatik, irama permainan


wilayah kerja penyutradaraan

Ruang lingkup/wilayah kerja penyutradaraan adalah memilih naskah, menganalisis naskah, merancang audisi dan melakukan audisi pemeran, serta membimbing pelatihan aktor.

Penyutradaraan menekankan pada pertemuan dengan manusia ketika menggulirkan ide-idenya, memvisualisasikan konsep dan mengekspresikan perasaannya.

Seorang sutradara diharuskan memiliki lebih banyak imajinasi dari semua yang mendukung, serta memiliki kemampuan dan bakat memimpin.

Tahapan penyutradaraan:
Tahap 1: Persiapan: pemilihan naskah, konsep pemanggungan, memilih staf, merancang ide, dan pemilihan pemeran.
Tahap 2: Implementasi: pemanggungan, pelatihan, uji coba, koordinasi, dan penampilan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar